Tambang identik dengan konflik dan kekerasan, contohnya yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), ketika kantor bupati setempat di bakar oleh massa yang menolak izin pertambangan di wilayah itu.
Tambang identik dengan konflik dan kekerasan, contohnya yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), ketika kantor bupati setempat di bakar oleh massa yang menolak izin pertambangan di wilayah itu. (sumber: FOTO : Riby/ANTARA)
Tambang di seluruh dunia hanya menjadi sumber konflik dan ladang pembantaian

Sejumlah seniman asal Nusa Tenggara Timur akan menggelar konser seni budaya di Jakarta, sebagai bentuk penolakan terhadap usaha pertambangan yang kian marak di provinsi paling Selatan Indonesia itu.

Ajang yang bertajuk "Konser Kultural NT4: NUSA TENGGARA TIMUR TOLAK TAMBANG" itu akan diikuti oleh puluhan seniman dari berbagai daerah di NTT dan digelar di Aula Marsudirini, Matraman, Jakarta Timur, 11 Maret mendatang.

"Hasil riset mencatat bahwa tambang di seluruh dunia, hanya menjadi ladang ‘pembunuhan', dan sumber konflik berkepanjangan serta pemusnahaan sistematik etnik tertentu," tulis panitia penyelenggara konser budaya itu dalam undangan yang dikirim via surat elektronik, Jumat.

Konser itu akan diramaikan oleh berbagai ragam antraksi budaya seperti tarian etnik, puisi, aksi teatrikal, orasi, dan musik. Selain itu akan hadir juga Aleta Baun, tokoh perempuan NTT penerima Saparinah Sadli 2008 Award, pejuang antitambang di Pulau Timor.

Menurut data Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda) hingga saat ini sudah terdapat 413 izin pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk wilayah kepulauan yang luasnya hanya 47.349,90 km2 itu.