|
Pernyataan Sikap
Tolak Tambang di Nusa Tenggara Timur
Komunitas Musisi, Seniman, dan Budayawan NTT se Jabodetabek
Kami, Komunitas Musisi, Seniman, dan Budayawan NTT se Jabodetabek: Menimbang,
mengingat, dan memperhatikan semakin banyak perusahaan tambang
beroperasi di seluruh NTT yang telah-sedang-akan menimbulkan berbagai
dampak destruktif terhadap ekosistem masyarakat adat dan lingkungan adat
di NTT― di masa kini dan mendatang― maka kami, Komunitas Musisi,
Seniman, dan Budayawan NTT se Jabodetabek memutuskan, menetapkan, dan
menyatakan SIKAP bahwa:
- Pertambangan merusak kondisi geologi, topografi, dan situs-situs budaya sakral di NTT.
- Pertambangan merusak pelestarian peradaban kebudayaan di NTT.
- Pertambangan
merupakan momok terbesar dalam sejarah peradaban budaya NTT―entah
masyarakat di sekitar lokasi tambang dan/atau pekerja tambang itu
sendiri.
- Pertambangan turut merusak pranata sosiologis masyarakat adat NTT.
- Pertambangan meluluh-lantahkan tatanan antropologis masyarakat adat NTT.
- Pertambangan tidak sesuai dengan corak hidup sosiologis-antropologis masyarakat NTT―yang adalah petani, peternak, dan nelayan.
- Pertambangan bakal memandulkan inspirasi musikal-kultural para musisi, seniman, dan budayawan NTT.
- Pertambangan mencederai situs-situs sakral budaya lokal yang berdekatan dengan lokasi tambang.
- Pertambangan
merupakan salah satu ‘kiamat terbesar’ dalam sejarah peradaban
NTT―’kiamat’ yang dibuat oleh perusahaan tambang dan pihak berwenang.
- Pertambangan menghancurkan masa depan generasi muda di NTT akibat debu tambang, limbah tambang, dll.
- Pertambangan
telah menjadi sumber konflik dalam lembaga keluarga di NTT dan
meruntuhkan Tatanan KELUARGA―yang merupakan BASIS UTAMA PERADABAN BUDAYA
di NTT dengan strategi devide et impera antar suku, golongan, keluarga,
bahkan antar ras oleh pemerintah dan pengusaha tambang.
- Pertambangan
sedang memutuskan satu mata rantai peradaban budaya di NTT menuju
terciptanya generasi NTT yang hilang (lost generation).
- Pertambangan turut ‘membunuh’ masa depan anak-anak NTT akibat debu dan limbah pertambangan.
- Pertambangan
menghancurkan masa depan anak-anak di NTT―dari sisi Intelligence
Quotient, Emotional Quotient, Cultural Quotient, Ecological Quotient,
dan Spiritual Quotient.
- Pertambangan bukan solusi bijak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat adat di NTT.
Berdasarkan
beberapa pertimbangan di atas, maka kami MENDESAK Presiden RI (jajaran
terkait), Gubernur NTT (jajaran terkait), dan semua Bupati/Walikota di
NTT (jajaran terkait) agar SEGERA:
- Menghentikan semua aktivitas pertambangan di bumi NTT.
- Menolak semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di NTT―yang sedang dan/atau akan diproses.
- Mencabut semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP)―yang telah dan/atau sedang dikeluarkan.
- Menuntut
perusahaan pertambangan, agar segera melakukan langkah-langkah
revitalisasi lingkungan di lokasi tambang―yang kini telah berubah
menjadi ‘liang kuburan akbar.’
- Melestarikan kembali
lokasi-lokasi tambang―yang telah merusak tatanan sosial-masyarakat adat
di NTT akibat pemberian Ijin Usaha Pertambangan (IUP) oleh Pemerintah
Pusat dan/atau Pemerintah Daerah.
“NTT adalah Negeri TOLAK Tambang”
“NTT adalah Negeri TANPA Tambang”
Pernyataan sikap ini dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 2012
Komunitas Musisi, Seniman, dan Budayawan NTT se Jabodetabek
bekerja sama dengan KIARA – JATAM – FORMADDA NTT
http://www.pedomannews.com/sosial-budaya/11217-warga-ntt-se-jakarta-gelar-konser-tolak-tambang-di-ntt
-
Jumat, 02 Maret 2012 11:03 WIB
-
Dibaca: 1075 kali
JAKARTA, PedomanNEWS -
Tak ingin bernasib sama seperti yang dialami tetangga dekat NTB, warga
Nusa Tenggara Timur (NTT) se Jabodetabek siap menggelar "Konser "NT4”:
Nusa Tenggara Timur Tolak Tambang" pada 11 Maret 2012.
Kegiatan
itu bertujuan untuk mengingatkan masyarakat NTT khususnya dan
masyarakat Indonesia pada umunya agar memperhatikan kondisi lingkungan
dari pengerukan perusahaan tambang yang tak bertanggung-jawab.
"Masihkah
Anda layak disebut orang NTT? Kini, Anda telah menjadi ‘orang asing’ di
negeri sendiri. Sekitar 300 perusahaan tambang sedang bercokol dan
mencaplok kebun-kebun Anda," jelas pernyataan dalam agenda di jejaring
sosial tersebut.
Berdasarkan pantauan PedomanNEWS sampai pukul 11.00 WIB, peserta yang akan hadir di Konser "NT4" berjumlah 75 orang, Jumat (2/3).
Kegiatan
yang digelar di Marsudirini Hall, Matraman Raya, Jakarta Timur dan akan
dihadiri para seniman NTT se Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi) dan disi dengan pembacaan puisi, tari-tarian etnik
NTT, aksi teatrikal, orasi serta konser musik.
Selain
itu akan ada kesaksian Aleta Baun, seorang pejuang wanita peraih
Saparinah Sadli Award, 2008 terkait kegigihannya menolak tambang di
Timor Tengah Selatan, NTT.
Yoseph Dionisius
Tambahkan Komentar Baru
|