Penjelasan Ilmiah di Balik Mimpi
Selasa, 20 Mei 2014 | 08:09 WIB
http://health.kompas.com/read/2014/05/20/0809550/Penjelasan.Ilmiah.di.Balik.Mimpi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

KOMPAS.com - Mimpi indah, mimpi buruk, atau mimpi yang sudah kita lupakan sebelum membuka mata, para ilmuwan selama bertahun-tahun terus berusaha mengurai tabir mimpi. Dengan merekam aktivitas otak saat kita tertidur, para ilmuwan ingin memahami mengapa manusia bermimpi, makna mimpi, dan emosi di balik munculnya mimpi.
Rahasia di balik mimpi memang belum terungkap seluruhnya, tapi setidaknya ini adalah hal-hal yang sudah diketahui para ilmuwan.
- Mengapa kita bermimpi
Kita bermimpi karena kita berpikir. "Bermimpi adalah proses berpikir dan sebenarnya merupakan lanjutan dari pikiran kita sepanjang hari. Semua yang kita pikirkan ternyata tidak berhenti meski kita tertidur," kata Lauri Loewenberg, penulis buku Dream On It: Unlock Your Dreams, Change Your Life.
Saat kita tidur, bagian otak yang bertanggung jawab pada pikiran linear dan logika menjadi tidak aktif, sementara area yang mengontrol emosi lebih aktif. Dengan kata lain, apa yang kita pikir dan rasakan sepanjang hari terus diproses oleh area lain otak sehingga kita melihat gambar, simbol, emosi, dan metafora melalui mimpi.
- Mimpi buruk
Mimpi buruk ternyata memiliki efek emosional yang kuat. Penelitian menunjukkan, kesedihan, rasa sedih, bingung, dan takut, adalah emosi yang dirasakan seseorang saat ia terbangun dari mimpi buruk.
- Pria dan wanita berbeda
Kaum pria biasanya bermimpi tentang kehancuran alam atau pun perang, sementara wanita lebih sering bermimpi tentang konflik interpersonal. Perbedaan itu disebabkan karena banyak hal, mulai dari ekspektasi sosial hingga hormon.
"Pria adalah kritikus tajam untuk dirinya, sehingga jika kita mengalami hal yang kurang berkenan biasanya saat malam kita bermimpi bertengkar atau berkelahi dengan karakter lain dalam mimpi," kata Lowenberg.
- Gampang dilupakan
Ada yang orang yang bisa mengingat mimpi mereka setiap bagun pagi, tapi ada yang tak ingat sama sekali. Orang yang sering terbangun di antara siklus tidur biasanya lebih gampang mengingat mimpinya. Saat bangun di malam hari otak punya waktu untuk menyimpan mimpi itu di ingatan jangka panjang.
Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna
Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *
Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder
Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun!
anggota American Academy of Sleep Medicine
Mimpi Bikin Anda Lebih Produktif
Penulis : Dr. Andreas Prasadja,
RPSGT * | Selasa, 14 Januari 2014 | 11:12 WIB
Dibaca: 2979
|
Share:

Shutterstock
Ilustrasi mimpi
TERKAIT:
KOMPAS.com - Mengapa kita bermimpi? Pertanyaan inilah yang menjadi ilham dimulainya kedokteran tidur. Di akhir 1950-an William Dement, seorang psikiater muda, tertarik mempelajari mimpi dan mengikuti satu-satunya guru yang meneliti tentang tidur Nathaniel Kleitman.
Kleitman dan Aserinsky dikenal
sebagai penemu tahapan tidur Rapid Eye Movements (REM) dimana kebanyakan
mimpi berada. Selanjutnya Dement, yang kini dikenal sebagai Bapak Kedokteran
Tidur, meneliti lebih jauh tentang tahapan tidur dan mimpi.
Pengetahuan Mimpi
Hingga kini, penelitian tentang
mimpi masih terus berlangsung, tetapi para ahli masih belum bisa menjawab
pertanyaan mendasar tentang mengapa kita bermimpi. Ada beberapa teori yang
diajukan, tetapi kata sepakat belum juga bisa dicapai.
Penelitian tidur mimpi sebenarnya
sederhana saja. Penemuan awalnya adalah lewat perekaman gelombang otak tidur
dan gerakan bola mata. Ketika seseorang mencapai gelombang otak tertentu yang
disertai dengan gerak cepat bola mata, orang tersebut dibangunkan lalu ditanya
apa yang dia ingat. Demikian juga setelah lewat dan memasuki tahap tidur lain.
Hasilnya saat masuk REM, seseorang ingat jelas tentang mimpi. Sedangkan ketika
sudah lewat, ingatan mimpi akan semakin pudar.
Penelitian lainnya dengan sengaja
mengurangi tidur REM seseorang dan melihat efeknya di siang hari. Beberapa
penelitian membuktikan bagaimana kekurang tidur REM berefek langsung pada
kemampuan kognitif dan stabilitas emosional manusia. Kemampuan belajar,
konsentrasi, ketelitian dan kreativitas berhubungan langsung dengan tidur REM.
REM
William Dement menekankan pentingnya
mimpi bagi manusia modern. Dement percaya bahwa tidur REM adalah yang
terpenting karena menjaga kewarasan, dan menumbuhkan kemampuan otak. Kemampuan
otak dan kebahagiaan adalah kunci utama kelangsungan hidup manusia masa kini.
Sedemikian pentingnya tidur REM,
bayi yang baru lahir 50 persen tidurnya berada pada tahap tidur ini, sedangkan
manusia dewasa hanya 20-25 persen saja. Pada bayi yang lahir prematur,
kira-kira 80 persen gelombang otaknya menunjukkan frekuensi yang sama dengan
gelombang otak REM.
Begitu juga saat kita kekurangan
tidur, malam berikutnya tidur REM seolah ‘balas dendam’ dengan memperbanyak
tidur mimpi. Bahkan ketika kita sedang dalam kondisi kurang tidur yang parah,
begitu tertidur bisa terjadi campur aduk tidur mimpi dengan kondisi terjaga.
Akibatnya kita setengah sadar namun setengah mimpi.
Tidur REM punya dua ciri khas, yaitu
adanya mimpi, dan lumpuhnya tubuh yang disebut dengan sleep paralysis.
Kelumpuhan dimaksudkan untuk melindungi kita agar tak bergerak-gerak mengikuti
skenario mimpi.
Dalam kondisi setengah bermimpi dan
setengah sadar, yang kita alami adalah halusinasi sosok lain di dekat kita.
Sosok yang muncul berbeda pada setiap orang. Untuk orang Indonesia biasanya
berupa sosok hantu yang menyeramkan. Kondisi diperparah oleh kelumpuhan tidur,
yang membuat kita dalam ketakutan tak bisa bergerak untuk melarikan diri.
Fenomena yang secara tradisional dikenal dengan sebutan ketindihan atau ereup-ereup
ini sama sekali tak mematikan.
Tapi tak boleh diabaikan karena
menunjukkan kondisi kurang tidur yang parah.
Kondisi kurang tidur yang parah menyimpan potensi berbahaya ketika berkendara atau mengoperasikan alat berat. Bukan hanya bahaya tertidur, tapi juga bahaya berkurangnya konsentrasi, kewaspadaan serta kemampuan refleks. Para ahli juga kini menyadari bagaimana kekurangan tidur menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan kadar gula dan tekanan darah serta risiko penyakit-penyakit jantung.
Kondisi kurang tidur yang parah menyimpan potensi berbahaya ketika berkendara atau mengoperasikan alat berat. Bukan hanya bahaya tertidur, tapi juga bahaya berkurangnya konsentrasi, kewaspadaan serta kemampuan refleks. Para ahli juga kini menyadari bagaimana kekurangan tidur menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan kadar gula dan tekanan darah serta risiko penyakit-penyakit jantung.
Mimpi
Beberapa orang beranggapan bahwa bermimpi
membuatnya lelah dan tak dalam kualitas tidurnya. Ini salah! Pertama, saat
tidur, pada tahap apa pun, tubuh dan otak kita selalu aktif. Gelombang otak
berganti-ganti tahapan. Tubuh juga sibuk perbaiki diri. Kedua, yang membuat
lelah bukanlah banyak mimpinya, tapi gangguan tidur yang dideritanya. Karena
ingat, mimpi jadi intens saat kita kekurangan tidur.
Siapa pun, setiap malamnya bisa
bermimpi 4-6 kali. Yang membedakan hanya ingat atau tidak akan mimpinya. Tak
ingat isi mimpi bukan berarti tak bermimpi.
Tidur mimpi membangun kemampuan otak. Jelas ini sangat penting bagi produktivitas manusia modern.
Tidur mimpi membangun kemampuan otak. Jelas ini sangat penting bagi produktivitas manusia modern.
Salah satu kemampuan yang dibangun
adalah kreativitas, tetapi mimpi sendiri bisa sangat kreatif. Maksudnya, tak
jarang para pencipta mendapatkan idenya dari sebuah mimpi. Sebut saja Mary
Shelley yang menuangkan isi mimpinya dalam novel Frankenstein.
Mimpi juga dapat memberikan
kesempatan mengalami suatu kejadian tanpa harus mengalaminya sungguh-sungguh.
William Dement sendiri pernah mengalaminya. Pada suatu mimpi, ia mendapati
dirinya terdiagnosis dengan kanker paru. Ia terbatuk-batuk darah, nyeri dan
harus menjalani segala perawatan medis. Kejadian bermingu-minggu ia alami dalam
satu episode mimpi yang mungkin hanya berlangsung 20 menit saja. Tapi pengalaman
mimpi ini jadi sangat bermakna, karena di pagi harinya ia langsung memutuskan
untuk berhenti merokok!
Walau belum dapat dijelaskan
menyeluruh, mimpi jelas bermanfaat bagi kehidupan kita. Baik simbolisasi Freud
yang artikan mimpi sebagai saluran emosi yang terpendam, atau pesan-pesan
spiritual yang diselipkan lewat mimpi, semua memiliki misteri dan manfaatnya.
Yang harus kita lakukan adalah mulai menghargai kesehatan tidur demi kualitas
hidup di saat terjaga.
Untuk sukses kita harus memiliki
mimpi. Untuk bermimpi kita butuh tidur. Ya, tidurlah dengan sehat untuk
tingkatkan produktivitas.
Sumber :
Editor :
Asep Candra